Pages

Subscribe:

Selasa, 29 Januari 2013

TEORI GENETIK KOGNITIF NOAM CHOMSKY

TEORI GENETIK KOGNITIF NOAM CHOMSKY
A.    PENDAHULUAN
Dalam hidup, manusia tidak akan pernah bisa lepas dari manusia yang lain. Dan dalam interaksinya manusia selalu melakukan komunikasi baik lisan maupun tulisan. Kedua jenis komunikasi tersebut membutuhkan sarana atau media untuk menyampaikan pesan dari individu yang satu ke yang lain. Dalam hal ini, bahasa menjadi media yang utama untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Bahasa mempunyai pengertian yang beragam. Namun, yang pasti bahasa selalu dan pasti menyertai semua kegiatan dan aktivitas manusia dari mulai lahir sampai dewasa. Dalam kesempatan ini, kami hanya mengurai pembahasan mengenai pembelajaran bahasa ke II yang bermula ketika anak mulai menempuh pendidikan pertamannya.
Banyak para ahli bahasa yang melakukan penelitian demi memperoleh suatu fakta mengenai pemerolehan dan pembelajaran bahasa. Diantaranya adalah Noam Chomsky. Chomsky menelurkan pendapat bahwasanya kemampuan berbahasa manusia itu dipengaruhi juga oleh kemampuan kognitifnya, Teorinya mengatakan bahwa ada intervensi dari kemampuan yang menyangkut ingatan, persepsi, pikiran, makna, dan emosi yang sangat berpengaruh ke dalam jiwa manusia. Ketika kita membicarakan masalah kognitif dalam hal ini kognitif berbahasa, maka kita tidak akan bisa mengelak bahwa terkadang ada campur tangan faktor genetik yang mempengaruhi kognitif seseorang. Dalam makalah ini akan dibahas lebih dalam mengenai faktor genetik kognitif yang dicetuskan oleh Chomsky.
B.    PERMASALAHAN
Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, makalah ini akan membahas dua permasalahan, di antaranya:
1.    Bagaimana teori genetik kognitif menurut Noam Chomsky ?
2.    Bagaimana implementasi teori genetik kognitif dalam proses pembelajaran bahasa kedua ?
C.    PEMBAHASAN
1.    Teori genetik kognitif menurut Chomsky
Teori genetik dan kognitif ini dikemukakan oleh Avram Noam Chomsky, yang merupakan seorang ahli psikolinguistik  Amerika serikat. Metode Chomsky sangat menaruh perhatian terhadap aspek akal. Ia membahas masalah-masalah bahasa dan psikologi, kemudian membingkainya menjadi satu bingkai dengan bentuk bahasa kognitif.
Chomsky berpandangan bahwa pemerolehan bahasa itu didasarkan pada faktor genetik yang telah dimiliki anak sejak lahir. Anak memperoleh kemampuan untuk berbahasa seperti dia memperoleh kemampuan untuk berdiri dan berjalan. Anak tidak dilahirkan sebagai piring kosong, seperti dalam teori tabula rasa yang dikemukakan oleh Jhon Locke, akan tetapi seorang anak tersebut telah dibekali  sebuah alat yang dinamakan Piranti Pemerolehan Bahasa.
Menurut Chomsky manusia mempunyai faculties of the mind, (kapling mind) yakni, semacam ” kapling-kapling intelektual” dalam benak atau otaknya. Salah satu bagianya khusus diciptakan untuk memperoleh bahasa. Manusia memiliki bekal kodrati (innate properties) waktu yang lahir dan bekal inilah yang kemudian membuatnya mampu untuk mengembangkan bahasa, piranti pemerolehan bahasa tersebut menurut Chomsky dinamakan Language Acquisition Device (LAD).
 LAD (Language Acquisition Device) merupakan Alat yang hanya menangkap gelombang-gelombang bahasa. Setelah diterima, gelombang-gelombang itu ditata dan dihubung-hubungkan satu sama lain menjadi sebuah sistem kemudian dikirimkan ke pusat pengolahan kemampuan berbahasa (Language Competence). Pusat ini merumuskan kaidah-kaidah bahasa dari data-data ujaran yang dikirimkan oleh LAD dan menghubungkannya dengan makna yang dikandungnya, sehingga terbentuklah kemampuan berbahasa. Pada tahap selanjutnya, pembelajar bahasa menggunakan kemampuan berbahasanya untuk mengkreasikan atau menghasilkan kalimat-kalimat dalam bahasa yang dipelajarinya untuk mengungkapkan keinginan atau keperluannya sesuai dengan kaidah-kaidah yang telah diketahuinya.
Teori Chomsky adalah teori linguistic modern, yang mencerminkan kemampuan akal, membicarakan masalah-masalah kebahasaan dan pemerolehannya, serta hubungannya dengan akal dan pengetahuan manusia. Chomsky mendasarkan teorinya ini atas dasar asumsi bahwa bahasa menjadi bagian dari komponen manusia dan produk khas akal manusia.
Chomsky melihat bahwa bahasa adalah kunci untuk mengetahui akal dan pikiran manusia. Manusia berbeda dengan hewan karena kemampuannya berfikir dan kecerdasannya, serta kemampuannya berbahasa.
Dalam kasus ini Chomsky pernah meminta bantuan seorang rekannya ahli bedah otak, untuk membandingkan struktur otak manusia dengan simpanse. Dalam eksperimen itu dapat dibuktikan bahwa struktur otak manusia dengan struktur otak simpanse sama persis, kecuali satu simpul syaraf bicara yang ada pada struktur otak manusia tidak terdapat pada struktur otak simpanse. Itulah sebabnya simpanse tidak dapat berbicara meskipun kadang-kadang ada simpanse yang keterampilan dan kecerdasannya mandekati manusia. Meskipun simpanse dilatih dengan metode drill and practice seribu kali dalam sehari, maka tidak akan mungkin seekor simpanse dapat berbicara, sebab dapat atau tidaknya berbicara itu bukan karena factor latihan atau kebiasaan melainkan karena factor warisan atau innate.
Bertolak belakang dengan teori behaviorisme, yang menekankan pentingnya stimulus eksternal dalam pembelajaran, teori kognitif menegaskan pentingnya keaktifan pembelajar. Pembelajarlah yang mengatur dan menentukan proses pembelajaran. Lingkungan bukanlah penentu awal dan akhir positif atau negatifnya hasil pembelajaran. Menurut teori kogitif ini, seseorang ketika menerima stimulus dari lingkungannya, dia melakukan pemilihan sesuai dengan minat dan keperluannya, menginterpretasikannya, menghubungkannya dengan pengalamannya terdahulu, baru kemudian memilih alternatif respon yang paling sesuai.
Dalam toeri linguistic Chomsky, dibutuhkan adanya pasangan penutur dan pendengar yang ideal dalam sebuah masyarakat tutur atau proses pembelajaran bahasa. Sehingga keduanya dapat menerima dan mengerti dengan penggunaan bahasa yang diucapkan dalam jumlah yang tidak terbatas, yang sebelumnya belum pernah didengar.
Chomsky membedakan adanya kompetensi dan performance dalam proses pembentukan bahasa. Kemampuan adalah pengetahuan yang dimiliki pemakai bahasa mengenai bahasanya, sedangkan performance atau perbuatan berbahasa merupakan pelaksanaan berbahasa dalam bentuk menerbitkan kalimat-kalimat dalam keadaan yang nyata.  Kedua tahapan tersebut akan membentuk tata bahasa yang baik,  sehingga dapat diterima dan dipahami baik bagi penutur atau pendengar dalam proses pemerolehan dan pembelajaran bahasa.
2.    Implementasi teori genetik kognitif dalam pembelajaran bahasa kedua.
Bahasa kedua merupakan bahasa yang diperoleh anak setelah memperoleh bahasa lain.  Kemampuan bahasa kedua pada umunya dimulai pada saat anak tersebut masuk bangku sekolah dasar. Pembelajaran bahasa kedua ini dapat diperoleh dari pengajaran yang diberikan seorang guru dengan menyajikan beberapa materi yang sudah dipahami, atau pembelajaran bahasa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
Bahasa merupakan produk khas akal manusia. Perkembangan bahasa seorang anak dipengaruhi oleh tingkat inteligensi dalam otaknya.  Kecerdasan atau inteligensi seseorang merupakan faktor innate yang diwariskan dari sifat-sifat induknya yang berlangsung pada kromosom otosom.
Dalam teori kognitif menyatakan bahwa belajar itu hendaknya bermakna bagi si pembelajar. Seorang pembelajar harus mampu memusatkan perhatiannya pada pemahaman terhadap makna dengan pemahaman yang sebenarnya. Pemahaman pembelajar itu harus memiliki fungsi atau makna sebagai pengganti dari menghafal bentuk-bentuk dan acuan-acuan bahasa dan mengulang-ulanginya.
Proses pembelajaran bahasa berhubungan dengan pembentukan akal dan kognisi. Dalam proses pembelajaran bahasa kedua ini, seorang anak dapat menyampurnakan pengetahuannya terdahulu tentang sesuatu yang ingin di pelajarinya. Selain itu, seorang anak juga dapat memahami alam sekitarnya dengan sebenar-benarnya jika ia bisa menghubungkan pengetahuan yang telah di milikinya dengan objek yang hendak di pelajari.
Berkaitan dengan teori genetik kognitif Chomsky dalam proses pembelajaran bahasa kedua, bahwa keberhasilan proses pembelajaran bahasa kedua dipengaruhi oleh  kecerdasan yang merupakan faktor genetik. Sehingga jika seorang anak tersebut memiliki tingkat inteligensi yang tinggi, maka tentunya seorang anak tersebut mampu untuk menerima dan memahami bahasa yang diajakan oleh pendidik dan ia dapat menyempurnakan pengetahuan yang telah dimilikinya terdahulu dengan cara mengkombinasikan pengetahuan yang dimilik dengan pengetahuan yang baru sehingga dapat diperoleh pengetahuan yang utuh dan sempurna.
Semakin tinggi tingkat kecerdasan anak maka tingkat perkembangan dan pembelajaran bahasa akan semakin cepat, sebab otak seorang anak dengan cepat menerima dan memahami pesan yang diberikan oleh orang lain dalam bentuk kalimat pendek atau panjang yang sebelumnya belum pernah didengar. 
Dalam proses pembelajaran bahasa ada beberapa hal yang harus diperhatikan seorang guru, sehingga pembelajaran yang disampaikan dapat mencapai keberhasilan sesuai dengan tujuan yang diharapkan, di antaranya:
a.    Dalam pembelajaran bahasa hendaknya mencakup empat kemahiran atau keahlian (mendengar, mengucap, membaca, dan menulis).
b.    Seorang guru harus memperhatikan perbedaan kemampuan intelegensi di antara siswa, karena setiap pembelajar memiliki kemampuan yang berbeda-beda antara satu dan lainnya.
c.    Agar belajar itu dapat bermakna bagi seorang anak, maka  para guru hendaknya mengarahkan para siswanya untuk dapat memanfaatkan pengetahuannya yang terdahulu dengan segala kemampuan yang dimilikinya. Pengetahuan ini di fungsikan untuk memahami materi yang ingin di pelajarinya, baik materi kaidah atau gramatika.
d.    Jika seorang anak tidak mempunyai pengetahuan yang terdahulu terkait dengan materi pelajaran baru, atau ia belum memahaminya dengan baik pada sat itu, maka seorang guru hendaknya membantunya dalam memahami materi pembelajaran yang di maksud, tepatnya pada saat memaparkan masalah-masalah yang terkait dengan materi yang di bahas.
D.    Simpulan
Teori genetik dan kognitif ini dikemukakan oleh Avram Noam Chomsky, yang merupakan seorang ahli psikolinguistik  Amerika serikat. Metode Chomsky sangat menaruh perhatian terhadap aspek akal. Ia membahas masalah-masalah bahasa dan psikologi, kemudian membingkainya menjadi satu bingkai dengan bentuk bahasa kognitif.
Chomsky berpandangan bahwa pemerolehan bahasa itu didasarkan pada faktor genetik yang telah dimiliki anak sejak lahir. Anak memperoleh kemampuan untuk berbahasa seperti dia memperoleh kemampuan untuk berdiri dan berjalan. Anak tidak dilahirkan sebagai piring kosong, seperti dalam teori tabula rasa yang dikemukakan oleh Jhon Locke, akan tetapi seorang anak tersebut telah dibekali  sebuah alat yang dinamakan Piranti Pemerolehan Bahasa.
Bahasa merupakan produk khas akal manusia. Perkembangan bahasa seorang anak dipengaruhi oleh tingkat inteligensi dalam otaknya.  Kecerdasan atau inteligensi seseorang merupakan faktor innate yang diwariskan dari sifat-sifat induknya yang berlangsung pada kromosom otosom.
Berkaitan dengan teori genetik kognitif Chomsky dalam proses pembelajaran bahasa kedua, bahwa keberhasilan proses pembelajaran bahasa kedua dipengaruhi oleh  kecerdasan yang merupakan faktor genetik. Sehingga jika seorang anak tersebut memiliki tingkat inteligensi yang tinggi, maka tentunya seorang anak tersebut mampu untuk menerima dan memahami bahasa yang diajakan oleh pendidik dan ia dapat menyempurnakan pengetahuan yang telah dimilikinya terdahulu dengan cara mengkombinasikan pengetahuan yang dimilik dengan pengetahuan yang baru sehingga dapat diperoleh pengetahuan yang utuh dan sempurna.




Daftar Pustaka
Abdul Chaer, 2003, Psikolinguistik kajian Teoritik, Rineka cipta: Jakarta
Dimensi Biologis dan Kesehatan Mental mela   
http:///C:/Users/Public/Pictures/Sample Pictures/kognitif chomski dan piaget. html.
Khalid A. Harras, 2009, Dasar-dasar Psikolinguistik. FPBS dan UPI PRESS,
Syamsu Yusuf LN, 2000. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. PT Remaja Rosdakarya, Bandung,







0 komentar:

Poskan Komentar